Kabupaten Sorong Selatan

Uncategorized

Masyarakat Bedare Gelar Ritual Adat Kerakerao
Jumat, 14/09/2018 09:32 WIB

TEMINABUAN-Masyarakat Bedare, Distrik Metemani menggelar ritual adat Kerakera0 baru-baru ini di halaman kantor Kampung Bedare Distrik Metemani. Ritual adat Kerakerao merupakan ritual adat yang biasanya diselenggarakan masyarakat di wilayah Imekko saat terjadi musibah yang menimpa seorang tokoh, pembesar ataupun pemimpin yang datang berkunjung  ke suatu kampung. Ritual adat Kerakerao dilaksanakan bertepatan dengan kunjungan kerja Bupati Samsudin Anggiluli, SE ke Kampung Bedare, tujuannya untuk mengangkat kembali roh atau sombar Bupati Samsudin Anggiluli yang jatuh saat panggung yang digunakan sebagai tempat kampanye 2 tahun lalu roboh. Masyarakat Bedare meyakini bahwa saat terjatuh itu sombar atau roh Bupati Samsudin Anggiluli masih tinggal di tempat acara tersebut, oleh karena itu ritual adat Kerakerao perlu diaksanakan untuk mengangkat dan  membangunkan kembali sombar, sehingga sombar Bupati Samsudin Anggiluli dapat  beranjak dari tempat tersebut dan kembali ke yang bersangkutan dalam keadaan sehat
walafiat.
 Prosesi ritual adat Kerakerao dimulai sejak malam hari hingga fajar menyingsing.
Diawali arak-arakan dengan tari-tarian diiringi lantunan lagu dan pukulan tifa maupun gong.  Start dari kantor kampung menuju tempat kejadian Bupati Samsudin Anggilulu terjatuh yang ditandai kayu adat. Setibanya di lokasi tersebut, salah seorang tokoh adat membacakan doa dengan bahasa setempat yang intinya meminta leluhur bersama mengangkat kembali roh yang telah jatuh beberapa waktu lalu dan mengembalikannya kepada Bupati Samsudin Anggiluli agar senantiasa sehat walafiat. Selanjutnya kayu adat yang asli dicabut secara
simbolis dan menyerahkan kembali sebuah topi bupati yang disimpan pada saat kejadian 2 tahun lalu. Setelah itu arak-arakan kembali menuju halaman kantor Kampung Bedare. Sebuah pohon dengan tinggi sekitar 8-10 meter dan kayu adat yang dicabut tadi ditancapkan di lapangan bersama-sama dan setelah itu Bupati Samsudin Anggiluli dan rombongan
dapat mencabut pohon tersebut.
 Sementara pencabutan pohon berlangsung, warga Kampung Bedare berusaha untuk menghalang-halangi pencabutan pohon tersebut dengan cara menaiki pohon tersebut dan menekan agar pohon ini tetap tertancap. Selain itu sebagian warga menyuapkan makanan berupa sagu bungkus avatar (ulat sagu) secara terus menerus kepada Bupati Samsudin Anggiluli dan rombongan, supaya menghabiskan makanan sagu avatar sampai bupati dan rombongan berhasil mencabut pohon ini. Setelah pohon dicabut Bupati Samsudin Anggiluli dipersilakan duduk di atas batang pohon dan diarak menuju ke luar kampung untuk meletakan kayu adat dan pohon yang dicabut sebelumnya. Penyuapan makanan tetap berlanjut sampai di lokasi kayu adat diletakan. Prosesi ritual adat diakhiri dengan pembacaan doa dan topi yang diserahkan ke Bupati Samsudian Anggiluli sebelumnya diambil kembali untuk dibuang. Tindakan ini menandakan bahwa hal hal buruk telah dibuang bersama
kayu adat di pinggir kampung.
 Bupati Samsudin Anggiluli usai pelaksanaan ritual adat menjelaskan, Pulau Papua kaya dengan budaya dan adat istiadat. Pelaksanaan ritual adat ini adalah bagian dari
pelestarian budaya Kabupaten Sorsel dan ini merupakan kekayaan budaya
yang wajib dilestarikan. Pihaknya terus mendorong dan terus membuat berbagai
bentuk  kegiatan seni budaya di kampung agar adat istiadat tetap ditampilkan agar anak muda setempat dapat mengetahui, lihat, ikut dan mempelajari adat-istiadat ini tidak punah tidak hilang dengan perkembangan jaman. (humas/julius)

Berita Lainnya