Kabupaten Sorong Selatan

Uncategorized

Sanggar Bidiara Raih Juara II Folksong se-Papua Barat
Jumat, 25/10/2019 13:36 WIB

TEMINABUAN-Tim Seni Budaya Kabupaten Sorong Selatan (Sorsel) yang ikut dalam Festival Seni Budaya tingkat Provinsi Papua Barat pada 9-11 Oktober lalu membuahkan hasil. Kabupaten Sorsel meraih Juara II lomba Folksong atau lagu rakyat yang didengar secara turun temurun. Selanjutnya untuk lomba Musik Tradisional, Kabupaten Sorsel meraih Juara III dan untuk lomba Tari Kreasi Baru mendapat Juara Harapan II atau terbaik V. Sedangkan untuk lomba Tari Tradisional dan Yosim Pancar, Kabupaten Sorsel tidak mendapat Juara. Lomba Folksong dan Lomba Musik Tradisional diikuti oleh Sanggar Bidiara dari Kampung Seyolo, sedangkan Lomba Tari Kreasi Baru diikuti oleh Sanggar Kwarolo dari Kampung Seribauw. Dengan waktu persiapan yang singkat, namun hasil yang diperoleh memuaskan tim. Hasil Festival Seni Budaya tingkat Provinsi Papua Barat ini memacu teman-teman untuk terus mengembangkan seni budaya yang ada di Kabupaten Sorsel. Demikian Ketua Tim Seni Budaya Kabupaten Sorsel Yulius Momot kepada ditanya Radar Sorong Senin (14/10) kemarin.


 Dijelaskan Yulius Momot, Folksong atau lagu rakyat yang dibawakan berjudul Amaro damorana namekodamua. Lagu tersebut mengisahkan tentang sepasang kekasih yang mengatur rencana ke suatu tempat untuk kawin lari. Seorang perempuan yang datang membangunkan kekasihnya yang sedang tidur untuk lari ke mana saja yang penting berdua. Sedangkan untuk lomba musik tradisional membawa lagu dengan judul A...moe werea kerea moeee dera mera moe yang menceritakan tentang seseorang yang hendak ke kampung tapi kondisi laut tidak bersahabat karena angin ribut dan lut bergelombang. Datang besok atau lusa, lihat air sudah meti dan sudah teduh baru datang. Sementara untuk tari kreasi baru menceritakan tentang warga kampung yang mengalami kekeringan karena musim kemarau panjang berusaha mencari sumber air. Saat mereka berada di ketinggian mereka melihat ada sumber air di bawah. Ternyata setelah mereka sampai di bawah banyak sumber air, sehingga warga memutuskan untuk menetap di daerah sekitar sumber air. (humas/julius) 

Berita Lainnya